Langsung ke konten utama

Postingan

Entri yang Diunggulkan

Keluarga Presiden

Ridho

Kadang kita ridho dengan keadaan diri kita sendiri karena belajar meridhoi apa yang telah menjadi ketetapan Ilahi. Tapi apakah orang-orang tercinta juga meridhoi keridhoan kita dan memaafkan segala kelemahan dan kekurangan kita ? Sesungguhnya kita tidak bahagia karena tidak ridho dengan ketetapan Ilahi, dan kita membelenggu diri sendiri dengan keinginan-keinginan yang tak pasti.

Ikhlas

Kebahagiaan terletak di dalam hati, dan dia harus diusahakan, harus diciptakan. Kita bahagia karena melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kata hati. Tetapi terkadang kita melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kata hati karena demi membahagiakan orang lain, dan hati kita menjadi tertekan. Itulah yang menjadi dasar ditumbuhkannya perasaan ikhlas pada diri kita, dan itulah yang dinamakan pengorbanan dan pengabdian. Keterangan gambar : Istri dan anak tercinta

Biarkan Prenjak Itu Bernyanyi , Anakku

Pagi itu cerah sekali ketika aku baru turun dari musholla sehabis melaksanakan sholat subuh. Embun-embun di pucuk daun menetes di pangkuan bumi yang lembab, mengiringi semburat kemerahan mentari pagi. Kudengar kicauan burung prenjak, burung kesukaan anakku yang kini kian tumbuh dewasa. Selama ini semoga aku tak pernah menyesal membiarkan anak-anakku bermain membiarkan mereka mengekspresikan kebahagiaan sebagai anak ndeso yang jauh dari kemegahan kota metropolitan, jauh dari cumbu rayu perang, jauh dari politik adu domba para politisi. Aku biarkan mereka bermain bersama teman-teman mencari jangkrik, memancing dan mandi di kali, di iringi suara burung-burung, desir angin gunung yang semilir, ku biarkan mereka mengeja bahasa alam, alam yang masih perawan, bersama kupu-kupu mengarungi keindahan semesta. Anakku, bernyanyilah di negeri yang jauh dari perang tentang damai dan kehidupan jangan biarkan prenjak terbang sendirian karena kehilangan kekasih tersayang. Janganlah kau menjadi pembunuh...

Gallery

Pecah Batu Pecah Kerikil

Zaman, telah berganti zaman zaman, menorehkan langkah kaki menjadi sejarah kabut tipis yang menyelimuti bebatuan menjelang gerimis di keremangan senja bebatuan tua terkikis angin bebatuan tua terlindas zaman. Zaman, telah pecah batu hancur berantakan bukan hancur sedikit demi sedikit zaman telah mengajakku bicara tentang keresahan dan keputusasan padahal aku hanya kerikil tajam dan berduri. Zaman, telah hancur batu berserakan hampir padam api kemarahan kerikil-kerikil putus asa benar, putus asa menjadi debu berkalang tanah. Zaman, dibawah kakiku menyala api neraka kemana aku menghindar kemana aku berlari padahal surga adalah negeri impian ketika aku bersumpah jabatan untuk adil dan bijaksana ! Zaman ! Kemana aku berlari pada saat zamanmu telah hancur berantakan ! batu ini hancur berantakan !

Bilakah ?

Bilakah waktu ini berhenti berputar ? Berhenti bekerja berhenti bernafas ? Bilakah ini menjadi kenyataan ? Kedamaian dan kemerdekaan ? Bilakah orang yang menjabat tangan memegang nurani menyingkirkan egois ? Bilakah aku mengerti semuanya ini mempunyai arti ?

Ku ketuk pintuMu

Allah, ku ketuk pintuMu membukakan jalan menuju masjidMu. Allah, selama ini aku khilaf lupa diri hilang diri. Allah, hati ini bertanya ketika menungguMu mencurahkan rahmat. Bukankah aku tidak tahu diri rahmatMu melimpah ruah tanpa dapat aku hitungi. Allah, izinkan aku bicara bukan kelantangan bukan kekecewaan bukankah aku ini sepenggal nyawa ? Yang setiap helaannya dipertanggungjawabkan ? Allah, di lantai suciMu ini barangkali Kau ridloi segala kekuranganku barangkali Kau maafkan segala kelemahanku...

Allah

Allah yang maha pengasih dan penyayang. Allah tempat ku bergantung dan berharap. Allah aku memuji dan memuja. Allah cengkramlah jiwa raga. Allah jangan biarkan aku merana. Allah, telah lelah jiwa raga. Tapi Kau berfirman : jangan putus asa. Allah Malik Karim.