Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

Keluarga Presiden

Ibarat Bulu di Jari Kelingking

Syekh Abu Nashr As-Sarraj
Syekh Abu Nashr as-Sarraj rahimahullah berkata: Dikisahkan dari
asy-Syibli, bahwa suatu ketika ia pernah berkata kepada
sahabat-sahabatnya, "Wahai kaum, aku lewat sesuatu yang tidak memiliki
arah belakang, maka aku tak melihat kecuali
belakang. Aku berjalan ke kanan dan ke kiri ke arah yang tak memiliki
arah belakang, maka aku tak melihat kecuali belakang. Kemudian aku
kembali dan aku melihat semua ini dalam bulu yang ada di jari
kelingkingku."

Isyarat yang ia katakan ini menjadi suatu kemusykilan bagi sahabat-sahabatnya.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj rahimahullah berkata: Apa yang ia katakan
ini memberi isyarat kepada alam dan hanya Allah Yang Mahat Tahu.
Sebab Kursi dan 'Arasy adalah makhluk yang juga barang baru. Dan di
belakang dunia ini tak ada lagi belakang. Di bawahnya juga tak ada
lagi bawah yang tak terbatas. Tak seorang makhluk pun yang mampu
memberikan batas dan menjelaskan sifatnya kecuali dengan apa yang
telah diterangkan oleh Allah.
Ilmu makhluk pun tidak akan mampu menggapainya. Dan hanya Sang
Penciptanya sendiri Yang tahu dan mengerti akan hal itu.

Kemudian asy-Syibli berkata, "Kemudian aku kembali dan aku melihat
semua ini dalam bulu yang ada di jari kelingkingku." Maksudnya, bahwa
kekuasaan Sang Maha Kuasa dalam menciptakan seluruh jagat raya ini
dan menciptakan seutas bulu yang ada di jari kelingking adalah sama
dan tak ada bedanya.

Bisa juga dimungkinkan bahwa ucapan tersebut memberi isyarat, bahwa
seluruh jagat raya dan semua yang diciptakan Allah meskipun jaraknya
sangat jauh dan ukurannya sangat besar, namun bila dibanding dengan
Kebesaran Sang Pencipta adalah sangat kecil, dan hanya seperti seutas
bulu yang ada dijari kelingking bahkan lebih kecil dari itu.

Juga dikisahkan, bahwa Asy-Syibli pernah berkata: "Jika aku berkata
demikian, maka itu adalah Allah, jika aku berkata demikian maka itu
adalah Allah. Dan aku hanya berharap dari-Nya sebesar atom." Ungkapan
ini tampaknya memberi isyarat pada firman Allah Swt.:
"... dan tidak pula lebih dari itu, kecuali Dia akan bersama mereka di
manapun mereka berada." (Q.s. al-Mujadalah: 7).

Sesungguhnya Dia selalu hadir dan tidak pernah absen (tidak hadir),
Dia berada di segala tempat, tapi tidak ada ruang dan tempat yang
cukup untuk-Nya dan tak ada tempat yang kosong dari Nya.

Sedangkan ucapannya, "Dan aku hanya berharap dari-Nya sebesar atom."
Itu berarti bahwa makhluk terhalang dari-Nya dengan Sifat-sifat dan
Nama-nama-Nya. Sedangkan apa yang Dia berikan bukanlah Nama dan
Sebutan-Nya, sebab mereka tak akan sanggup melakukan lebih dari itu.

Dalam hal ini asy-Syibli mengatakan dalam sebuah syair:
Aku katakan:
tidakkah mereka telah kosongkan kitabku
Ia menjawab, "ya". kukatakan maka cukuplah itu
la juga mengatakan:
Tidakkah sebuah kebahagiaan
jika kau berada kau berada di dalam negerimu sendiri.

la juga melantunkan syair yang lain:
Suatu hari Kau naungi kami dengan mendung
kilatnya bersinar dan penangkalnya lambat
Awan tak tersingkap hingga tak putus asa orang yang mengharap
Tidak juga airnya turun hingga bisa menyegarkan orang yang haus.

Asy-Syibli rahimahullah berkata: Aku menulis Hadis dan Fiqih selama
tiga puluh tahun hingga menyingsing waktu Shubuh. Lalu aku datang pada
orang-orang yang aku mengambil referensi darinya dan aku katakan, "Aku
ingin fiqih Allah Swt." Namun tak seorang pun yang menjawabku.
Makna ucapan asy-Syibli, "... hingga menyingsing waktu Shubuh." Yakni
cahaya-cahaya hakikat dan pendakian ruhani yang diharapkan dan hakikat
fiqih, ilmu dan ma'rifat itu bisa tampak jelas.

Sedangkan makna ucapannya: "Berikan padaku fiqih tentang Allah."
adalah memahami dan mendalami ilmu kondisi spiritual yang terjadi
antara hamba dengan Allah dalam setiap saat dan hembusan nafas.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj berkata: Asy-Syibli bertanya kepada
al-Junaid. "Wàhai Abu al-Qasim. Bagaimana pendapat Anda tentang orang
yang menjadikan Allah cukup sebagai pelindungnya baik secara ucapan
maupun hakikat?"

Al-Junaid menjawab, "Wahai Abu Bakar. antara Anda dengan tokoh-tokoh
umat dalam pertanyaan Anda ini ada sepuluh ribu maqam (kedudukan
spiritual). Sementara yang paling awal adalah menghapus apa yang
dengannya Anda memulai."

Makna apa yang diucapkan asy-Syibli adalah bahwa al-Junaid mengawasi
kondsi spiritual asy-Syibli berkat ilmu dan kemapanannya. Maka
asy-Syibli menutupi apa yang dikhawatirkan bahwa apa yang dikatakan
itu hanya sekadar mengaku. Sebab orang yang menjadikan Allah cukup
untuk segala-galanya maka ia tidak perlu bertanya. Maka pertanyaan
asy-Syibli di sini menggambarkan kedekatannya dengan apa yang ada
sana.

Demikian pula aku pernah mendengar Ibnu 'Ulwan berkata:
"Al-Junaid pernah berkata: Asy-Syibli telah berhenti di tempatnya dan
ia tidak melanjutkan perjalanan ruhaninya lagi. Andaikata ia terus
mendaki maka akan ada Imam dari dirinya."

Abu Amr berkata: “Mungkin saja asy-Syibli pernah datang pada al-Junaid, kemudian bertanya tentang suatu masalah, tapi al-Junaid tidak menjawabnya dan malah berkata, “Wahai Abu Bakar, ini karena kasihan terhadap diri Anda dan kekokohan jiwa Anda. Sebab gemetar, gelisah, rasa jengkel, pendek akal dan ucapan yang di luar kontrol bukanlah termasuk kondisi spiritual orang-orang yang mapan dan kokoh. Ini hanya pantas untuk para pemula dan mereka yang masih memiliki keinginan (iradah).”
Juga dikisahkan dari asy-Syibli, bahwa al-Junaid pernah berkata. “Wahai Abu Bakar, apa yang kau katakan itu?”
Aku menjawab, ‘Aku mengatakan, Allah’.”
Kemudian berkata, “Berlalulah. Semoga Allah memberimu keselamatan.”
Al-Junaid bermaksud. bahwa Anda (asy-Syibli) berada dalam posisi yang sangat berbahaya. Jika Allah tidak menyelamatkan Anda dalam ucapan Anda, ‘Allah’. kemudian Anda masih memperhatikan apa yang selain Allah. maka betapa jeleknya kondisi spiritual Anda saat itu.

Asy-Syibli berkata, “Seribu tahun yang telah silam berada dalam seribu tahun yang akan datang. Itulah waktu, makajangan sekali-kali Anda tertipu oleh bayang-bayang.”
la juga berkata, “Waktu kalian itu terputus. Sedangkan waktuku tak memiliki dua sisi.”
Mungkin ia sedang syathah dan kemudian berkata: “Aku adalah waktu, waktuku sangat agung. Dan tak ada dalam waktu itu selain aku. Dan aku benar.”
Ia melantunkan dua bait syair berikut:
Kokoh dalam muamalahnya
kokoh lagi terjaga kebenaran, dijaga yang menentramkan
Melambunglah keagungan, maka menjadi agung
lenyap sudah keyakinan dalam arus keyakinan
Mungkin ia ingin mengatakan, “Aku melihat dalam setiap kemuliaan, ternyata kemuliaanku semakin bertambah mengalahkan mereka. Aku melihat kemuliaan mereka dalam kemuliaanku.” Kemudian ia membaca:
“Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka bagiAllahlah kemuliaan itu semuanya.” (Q.s. Fathir: 10).

Kemudian ia mengatakan: “Barangsiapa merasa mulia dengan Pemilik kemuliaan, maka Pemilik kemuliaan berhak untuknya.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj berkata: “Adapun ucapannya, tentang waktu, itu mengisyaratkan pada nafas yang terjadi di antara dua nafas, bersitan hati yang terjadi di antara dua kali bersitan. Sebab itu terjadi dengan Allah dan untuk Allah. Inilah sebenarnya waktu itu. Jika sekali hembusan nafas berlalu begitu saja, meski dalam seribu tahun maka ia telah kehilangan satu kali nafas dan tak akan bisa didapatkan kembali lagi meski menyesal berkali-kali.”
Yakni, seribu tahun yang telah berlalu dengan seribu tahun yang akan datang, Anda selalu berada di antara dua kali hembusan nafas, dan itu seharusnya jangan sampai hilang sia-sia.

Orang yang mulia adalah orang yang dimuliakan Allah, sehingga tidak ada orang lain yang sanggup menyusul kemuliaan yang diberikan-Nya. Sebaliknya, orang yang hina adalah orang yang dijadikan sibuk oleh Allah untuk mengurusi selain Allah, sehingga melupakan-Nya, dan tak seorang pun yang akan bisa sama dengan tingkat kehinaannya.

Adapun makna ucapan asy-Syibli, “Jangan sekali-kali Anda tertipu oleh bayang-bayang.” Maksudnya bahwa segala sesuatu selain Allah adalah bayang-bayang semu. Jika Anda cenderung kepadanya maka ia benar-benar telah menipu Anda.
Sedangkan ucapannya “Aku benar.” yaitu dalam ucapannya “Aku adalah waktu, aku adalah benar.” Sebab ucapannya, “Dengan hal itu aku tidak mengisyaratkan kepada-Nya.”
Ucapannya, “Waktuku tidak memiliki dua sisi.” maksudnya, bahwa pada segala sesuatu itu bisa ditoleransi kecuali pada waktu. Sebab jika seseorang menyibukkan diri dengan selain Allah dan cenderung kepada segala apa yang diciptakan Allah, diukur dalam waktu maka hal itu tidak bisa ditolerir sekalipun hanya satu hembusan nafas dalam seribu tahun.

Dikisahkan dari asy-Syibli —rahimahullah— yang pernah berkata, “Allah, jika Engkau tahu bahwa dalam diriku masih tersisa sesuatu selain Engkau maka bakarlah aku dengan api-Mu. Tak ada Tuhan selain Engkau.”

Kejadian-kejadian seperti ini merupakan kondisi spiritual yang telah terkuasai oleh wajd, dimana ia berusaha mengungkapkannya sesuai dengan apa yang didapatkan pada waktu ia sedang wajd. Dan ini tidak terjadi terus-menerus, karena hal itu merupakan kondisi spiritual. Sementara kondisi spiritual adalah kejadian spontanitas yang terjadi pada seorang hamba sewaktu-waktu dan tidak terus-menerus. Ini merupakan belas kasih Allah yang diberikan kepada para wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya. Sebab jika hal ini terjadi terus-menerus maka aturan hukum dan batas-batas ketentuan Allah tidak dapat mereka lakukan, sehingga mereka tidak bisa berperilaku dengan adab kesopanan, akhlak dan tidak akan sanggup bermuamalah dengan sesama makhluk.

Tidakkah Anda perhatikan, bagaimana sahabat-shabat Nabi bertanya tentang hal itu kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ketika kami berada di hadapanmu dan mendengar apa yang engkau ucapkan, hati kami menjadi lembut dan sensitif. Namun saat keluar dari sisimu kami kembali disibukkan dengan urusan keluarga dan anak-anak.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Andaikan kalian tetap seperti kondisi saat bersamaku niscaya para malaikat akan berjabatan tangan dengan kalian.”
Disebutkan dan asy-Syibli —rahimahullah— yang pernah berkata, “Andaikata dalam benakku pernah terlintas bahwa Neraka Jahim dengan nyala apinya bisa membakar seutas rambutku maka aku benar-benar syirik.”

Maka demikianlah pendapat kami, bahwa Jahannam tidak punya kemampuan untuk membakar, karena ia hanyalah menjalankan perintah. Panas yang bisa dirasakan oleh penghuni neraka adalah sesuai dengan apa yang Allah bagikan pada mereka.
Juga dikisahkan, bahwa ia pernah berkata, “Apa yang bisa aku lakukan dengan Neraka Lazha dan Saqar?” Menurut pendapatku, bahwa Lazha dan Saqar, Anda bisa tinggal di dalamnya, yakni dalam terputus dengan Allah dan berpaling dari-Nya. Sebab orang yang ma’rifat dengan-Nya akan lebih tersiksa bila ia terputus dengan-Nya daripada disiksa dengan Lazha dan Saqar.

Disebutkan bahwa ia pernah mendengar seorang membaca ayat al-Qur’an berikut:
“Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kamu berbicara denganku.” (Q.s. al-Mu’minun: 108).
Maka asy-Syibli berkata, “Andaikan aku adalah salah seorang dari mereka.” Sepertinya ia memberi isyarat akan jawaban Allah pada mereka. Makanya ia mengatakan andaikan aku termasuk orang yang mendapat jawaban, meskipun aku di dalam neraka. Ini semata karena rasa takutnya. Sebab ia tak tahu apa yang telah ditetapkan sebelumnya, apakah ia termasuk orang yang bahagia atau celaka, atau termasuk orang yang Allah berpaling darinya atau termasuk orang yang disambut oleh Allah.

Disebutkan juga bahwa di majelisnya ia pernah berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang andaikata mereka berludah di Jahannam maka akan memadamkan apinya.” Ungkapan ini sangat sulit ditangkap oleh orang-orang yang mendengarnya.
Diriwayatkan dari Rasulullah yang pernah bersabda, “Di hari Kiamat nanti, Neraka Jahannam akan berkata kepada orang mukmin, ‘Menyeberanglah engkau. Sesungguhnya sinarmu telah memadamkan baraku’.” (H.r. ath-Thabrani dan Abu Nu’aim dari Ya’la bin Munabbah dan dari Jabir bin Abdullah).
Dan masih banyak hal yang diceritakan dari asy-Syibli yang serupa dengan kisah-kisah di atas, yang tidak perlu disebutkan semua, untuk menghindari berlarut-larut dan semakin banyak. Sehingga orang yang berakal cukup dengan yang sedikit ini bisa dijadikan petunjuk pada yang masih tersisa banyak. Semoga Allah memberi taufik kepada kita.

sumber : sufinews.com

Artikel Terkait

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI NEGERI INI DI NGERI INI

DI NEGERI INI DI NGERI INI Di negeri ini aku tak ingin bicara demokrasi setidaknya untuk kali ini apa lagi berbicara kekuasaan ...keuangan ...ketuhanan ...mengerikan !! Ini negeri dimana sepatah kata tak berarti lagi tidak seorang ratu bersabda apatah lagi orang jelata jangan dipaksakan belati untuk bersuara ketika hukum tak lagi menjadi payung di sini ada rakyat yang marah karena kekayaan hanyalah jaminan hutang belaka bukan menggadaikan negara, bukan ! tapi jiwa negara ini benar-benar merintih kesakitan aku hanya mencari panutan bukan orang pintar yang hanya pandai berbicara. Ini negeri ketika media TV dan koran menjadi Tuhan raja takluk pada sabdanya rakyat tunduk pada kebohongannya. Ini negeri ketika Tuhan yang sebenarnya didustakan kalau tidak untuk dikatakan apatriotis sebenarnya aku malu tinggal di negeri ini tapi di sini aku dilahirkan dan dibesarkan di sini pula Bapak Ibuku dimakamkan tapi di sini aku melihat kekuasaan... Keuangan ketuhanan begitu mengerikan di kengerian ini d...

Reformasi

REFORMASI Peluru itu telah dimuntahkan enam orang mahasiswa jatuh berguguran bersimbah darah di antara puluhan ribu rakyat yang mengeluh tak berarti permohonan maaf ratusan penjarah mati terpanggang dalam kurungan api amarah tumbal keserakahan ribuan gedung hancur berantakan puing-puing berserakan di sepanjang jalan menyisakan asap hitam membumbung sehitam perjalanan sejarah tak terlihat jelas siapa yang benar siapa yang salah tentarapun ragu mengarahkan laras senapannya kostrad marinir memasang mata curiga karena selama ini ternyata mereka menembaki kawan sendiri kawan sesama pejuang bangsa para pejuang reformasi Di antara perundingan para pejabat diskusi para politisi debat para birokrat tak jelas apa yang dibicarakan tak jelas apa yang diputuskan tiba-tiba terjadi amukan massa massa mengamuk seperti anak mengamuk pada bapaknya minta makan agar tak kelaparan minta baju agar tak kedinginan minta susu agar bayi tak kesakitan hari itu 14, 15, dan 16 mei tahun 1998 darah dan air mata mel...

Cinta Yang Kering

Berhembus angin menerpa bukit, pucuk-pucuk pinus berguguran, lembayung bercampur jelaga di ufuk senja, temani hari hingga ke ujung temaram, gelapnya sebuah malam. Padi dan ilalang mengering, kegersangan ini pertanda apa..... kulit ini merinding, hati juga menggigil, kemarahan ini pertanda apa..... karena kau dan aku sama sekali tak ada cinta. Ah, kau ini hanya bara api, setengah mati aku menjagamu agar tak menjadi api, kau buas, penuh birahi, kau penuh darah, penuh cerita luka, baiklah ku tinggalkan pergi. Angin tetap berhembus menerjang bukit, mengeringkan jerih payah dan air mata, sebagian harapan telah tertumpah pasrah, hanya berbekas di hamparan kertas, tinggal cerita sejarah, tentang kau dan aku yang lebih baik berpisah

MENANTI

MENANTI Keteguhanmu menanti daku kan kembali dengan sejuknya sinar rembulan mengharap kehadiranku penghibur hati. Dalam bisumu aku tak tahu apa yang terjadi hanya bulan bintang jadi saksi kesetiaanmu terlukis abadi. Namun dalam sesalmu tiada di hati cela caci hanya kepasrahan jadi bukti betapa tersiksanya jiwa menanti Dalam kerinduanmu engkau alunkan bait bait puisi Aku tahu betapa pedihnya menjalani hidup ini... Pekalongan 5 Januari 1990 dari album BUNGA SEROJA

PERJUANGAN

Bila Engkau ingin tahu bahwa hidup ini akan memberikan makna kepadamu, maka hikmatilah bahwa hidup ini adalah perjuangan, perjuangan di dalam sunyi, juga perjuangan di alam yang membara. Nafsu dan keinginanmu adalah api yang menyala-nyala, dengannya Engkau hidup, dan dengannya pula Engkau ditimpa kehancuran bila Engkau tidak mampu mengendalikannya. Ingatlah bahwa perjuangan paling berat adalah perjuangan melawan hawa nafsu dan perjuangan memelihara imanmu. Dan orang yang paling perkasa di antara kamu adalah orang-orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya. Untuk dapat mengalahkan hawa nafsu, lihatlah dirimu sendiri, bahwa Engkau hidup tak sendiri, Engkau punya Tuhan Yang Maha Kuasa, berbaktilah kepadaNya dengan sepenuh jiwa raga. Hidup di dunia ini adalah fana, laksana di tengah padang yang menghampar Engkau menanam, carilah bekal perjalanan menuju alam yang abadi, dan bekal yang harus Engkau miliki adalah menjalankan amanat Tuhan dengan hati yang ikhlas tanpa mengharap puji-pujian. Ja...

Pengingkaran Orang Kafir Terhadap Kehidupan Akhirat

"Dan alangkah hebatnya sekiranya engkau melihat tatkala mereka disuruh berdiri di pinggir neraka, lalu mereka berkata menyesal: Alangkah baiknya sekiranya kami dikembalikan hidup di dunia sekali lagi, kami tidak lagi akan mendustakan akan ayat-ayat Allah, dan kami akan menjadi orang-orang yang benar-benar beriman" "Bahkan telah nyata bagi mereka yang dahulunya tersembunyi (ghaib) bagi mereka. Sungguhpun begitu, sekiranya mereka dikembalikan dapat hidup sekali lagi di dunia, mereka pasti kembali kafir, kembali melakukan apa yang pernah mereka lakukan. Sesungguhnya mereka itu adalah pembohong" "Mereka berkata: Tidak ada kehidupan selain kehidupan di dunia ini, dan tidaklah kita akan dihidupkan kembali" (QS Al-an'am 27-29) Memang begitulah perangai orang-orang kafir, tidak meyakini adanya kehidupan akhirat, dan mereka hanya mementingkan kehidupan di dunia semata tanpa memperdulikan adanya dosa dan siksa yang kelak akan mereka terima.

Tinggi-Tinggi

TINGGI-TINGGI Kibarkanlah benderamu tinggi-tinggi seperti hendak mencapai puncak langit cumbuilah bidadari-bidadari itu di balik mega dan pekikkanlah kata-kata merdeka ! Seperti dulu kakek nenekmu pernah berperang mereka mengangkat stambul tinggi-tinggi mempertaruhkan nyawa yang berharga mati karena mati itu tidak sia-sia Tapi sanggup berkata apa kau sekarang ? Harta tiada, kemerdekaan tiada tanganmu terbelenggu, jiwamu terpasung ini negeri menangis merintih-rintih menjerit tapi penuh makna tak pasti setetes darah dan setitik air mata bidadari itu ibu pertiwi itu tak berarti untuk menutupi lukamu Kibarkanlah benderamu tinggi-tinggi sebelum sukmamu di jemput mati mati itu sungguh sia-sia karena kau tak tahu apa arti pengorbanan itu negeri ini merindukan kedamaian tapi kau ciptakan kepongahan rakyat ini mendambakan kemerdekaan tapi kau ciptakan peperangan ini negeri hancur binasa sebelum rakyat tahu apa arti adil dan kemakmuran negeri ini terlanjur terkoyak sebelum kau tahu apa arti pers...

Di Persimpangan Jalan

Di persimpangan jalan ini aku berdiri, menunggu rantaumu kapan kan kembali, negeriku, negerimu terbentang jarak jauh sekali, tapi hatiku hatimu masih merekat, dekat sekali, itulah cinta jarak dan waktu memisahkan, tapi kasih dan sayang mempersatukan, kerinduan dan pengharapan menjalin jiwa resah menjadi kenangan indah. Kapan cinta dan kasih dipertemukan kembali, laksana matahari senja dijemput malam sunyi, bersanding di pelaminan, bersatu di peraduan, mencurahkan kasih dan sayang, dalam bejana-bejana cinta. Kapankah penantian ini mendapat jawab, di persimpangan jalan ini menunggu penuh harap, negeriku negerimu, mengapa tak dipersatukan saja, agar jasad rindu ini tak harus merasa dipisahkan. Di persimpangan jalan ini selalu ku pandangi wajah orang-orang, lelah lusuh berlalu lalang, di pojok rumah ini juga telah ku tanam kembang mawar dan melati, berharap cintaku kan datang kembali, pada saat kembang mawar dan melati telah bersemi, berharap kelak kan ku suntingkan seperti keindahan di m...

MENANTI

MENANTI Simaklah rinai hujan wahai Anita! Amaj jenuh pengorbanan di hatiku alunkanlah tembang tembang doa lukisan cinta yang agung kan menggores malam. Perjalanan waktu adalah pasti tidakkah kau berkehendak sekedar mdmbuat coretan dh hatiku.Anita? Ya di dadaku masih ada pengharapan. Ceritakanlah kepadaku kisah kisah beku perjalanan hidupmu karena di matamu memancarkan kebimbangan terkadang senyummu ungkapkan kehampaan. Anita kidung kidung tua telah berlalu tapi suara suara nxanyian burung masih merdu semerdu suara di hatiku yang selalu menyebut namamu. Pemalang 5 agustus 1989 dari album BUNGA SEROJA.

PANDANGAN

Lewatmu jalan sederhana mula dipandang kasih pun ada ketika jiwa bersuara tiada kata tertulis selain puji sanjungan. Kita hanya saling pandang seakan diri paling kecewa seakan yang dipandang paling bahagia. Sebenarnya tiada beda antara aku dan kau sama-sama jiwa berjiwa dengan seribu problema. Sama antara aku dan kau pernah menangis dan tertawa pernah terpuji dan dihina. Di mana cinta suci di mana kebahagiaan sejati itu yang perlu kita hayati. Bogor 21 Juni 1995 Created By CentralSitus