Zaman, dimana seseorang harus berjuang mempertahankan hidupnya,bekerja
mencari nafkah adalah sebuah pilihan. Lihatlah bagaimana seorang
pengamen bernyanyi ..aku mengamen daripada mencuri atau
korupsi...dengan suara yang lantang,kiranya pejuang pejuang kita di
desa desa terpencil amat layak menjadi bahan perhatian pemerintah dan
seluruh masyarakat. Bagaimana tidak ? Mereka mendarmabaktikan ilmu
pengetahuan mereka meski hanya sekedar a ba ta tsa pada santri santri
kecil tanpa jaminan imbalan jasa atau uang sabun sekalipun meski dari
orang tua santri itu sendiri. Para ustadz itu berjuang atas dasar iman
dan rasa tanggung jawab mereka untuk meninggikan kalimat Allah,
kemudian mereka mencari nafkah dengan berjualan roti, menjahit atau
bahkan menjadi tukang becak... Sungguh kontras sekali dengan
pemandangan para sarjana kita yang mengantri di pintu pintu instansi
untuk menyodorkan surat lamaran CPNS. Ya, semua orang berhak
mendapatkan pekerjaan yang layak demi kemanusiaan. Kalau pemerintah
saat ini mengeluh masih kekurangan untuk menggaji para guru
honorer, apatah lagi melirik nasib para ustadz di surau surau kecil di
pojok desa terpencil. Inilah momentum yang tepat untuk memberdayakan
zakat di kalangan umat untuk membantu mengangkat derajat dan martabat
kehidupan para ustadz di desa. Jangan sampai timbul pemikiran bahwa
mengajar ngaji daripada nganggur dan menunggu giliran untuk merantau
ke kota dengan menggadaikan iman dan islam mereka. Inilah tugas
pemerintah yang punya kekuasaan dan tugas masyarakat kita semua.
Yatie adikku wong ayu, Iki lho arloji sing berkarat kae. Kulinakna nganggo, mengko sawise sesasi rak weruh endi sing kok pilih: sing ireng, apa sing dek mau kae, apa karo-karone? Dus: mengko sesasi engkas matura aku (Dadi: senajan karo-karone kok senengi, aku ya seneng wae). Masa ora aku seneng! Lha wong sing mundut wanodya pelenging atiku kok! Aja maneh sekadar arloji, lha mbok apa-apa wae ya bakal tak wenehke. Tie, layang-layangku ki simpenen ya! Karben dadi gambaran cintaku marang kowe kang bisa diwaca-waca maneh (kita baca bersama-sama) ing tembe jen aku wus arep pindah-omah sacedake telaga biru sing tak ceritake dek anu kae. Kae lho, telaga biru ing nduwur, sak nduwure angkasa. Coba tutupen mripatmu saiki, telaga kuwi rak katon ing tjipta! Yen ing pinggir telaga mau katon ana wong lanang ngagem jubah putih (dudu mori lho, nanging kain kang sinulam soroting surya), ya kuwi aku, — aku, ngenteni kowe. Sebab saka pangiraku, aku sing bakal ndisiki tindak menyang kono, — aku, ndisiki ko...
Komentar