Langsung ke konten utama

Postingan

Entri yang Diunggulkan

Keluarga Presiden

IBUNDA

Malam kembali tiba ada secercah harapan hasratku untuk kembali di rantau telah lama berjuang mengadu nasib membangun harapan di negeri orang. Malam ini sunyi tanpa bintang gemintang sedangkan kerinduanku begitu kokoh bertahta ku nyalakan lilin yang tinggal sebatang agar remang cahayanya menerangi bilik kamar yang kian hari rapuh ditelan usia. Dalam sujudku aku menangis mengeluh betapa lelahnya jiwa dan raga menikmati hidup yang penuh mimpi menghikmati suka duka yang penuh misteri pada biru lazuardi di sanalah mata memandang kaki menapak tanah-tanah kering berbatu menelusuri padang ilalang inilah hidup ! hidupku, ibunda ! Ibunda di malam yang gelap sunyi kembali aku terkenang betapa indahnya masa kanak-kanak dulu bermain kelereng mandi di kali di seberang rumah kau memanggilku berteriak cemas takut anak nakal ini hilang tenggelam di telan deras air kali yang dalam. Ibunda tentunya pohon mawar dan melati yang dulu kau tanam kini telah berbunga menebarkan aroma wangi hingga harumnya meme...

Separuh Hati

        Dalam keremangan senja, Seorang anak duduk sendiri itulah aku. Di bawah matahari senja mestinya segera saja aku berkhalwat agar suara adzan yang kelak memanggilku untuk bersujud tiada hilang ditelan goresan waktu tapi belum juga aku berdiri beranjak dan berlari untuk bersunyi diri. Perjalanan masa lalu mengapa hanya setitik memberi makna hamparan bumi untuk bersujud ayat-ayat suci penerang hati sorban dan sajadah yang mewangi mengapa tak sedetikpun terlintas di hati dan sampai tengah malam ini mestinya segera saja aku bersuci dan membaca kalam Illahi dengan lidah yang fasih atau ku tundukan kepala ini merata di bumi. Duh Tuhanku dengan cara apa aku bersuci dengan siapa ilmu itu aku cari untuk siapakah ku persembahkan jiwa raga ini. Duh Tuhanku betapa aku ini malu kuasaMu meliputi bumi dan langit sekejap usiaku ada di tanganMu tapi mengapa hingga jazad ini rapuh tak ku temui hakikat diriku sendiri dengan sekali kehendak saja terjadilah apa yang Kau kehendaki t...

Pink

Senja delapan belas hari rembulan tertutup mendung di ufuk yang tinggi malam ini perkenankan aku berbaring di lantai dingin dingin sekali. Inilah hariku lembar cerita merenda kehidupan ingin benar aku mengadu sakit perih ini benar menyiksa tapi tanpamu buat apa ? Pink bias warna itu indah di lantai dingin ini cerita kita menjadi sejarah jeritan sukma terpenjara...

Inul Jatuh Cinta !

Seorang anak manusia tersenyum di kepagian ini hari matahari cemerlang burung prenjak bernyanyi riang ini hari Inul jatuh cinta ! Siapa gerangan kekasihnya biarkan ! Inul katakan, hariku harinya tiada hari tanpa cinta ! Cinta oh cinta racuni Inul mabuk kepayang cinta oh cinta janji hidup di sorga. Biarkan saja Inul jatuh cinta seperti matahari mendatangi malam biarkan saja Inul bahagia seperti prenjak yang bernyanyi riang di pojok rumah.. Bekasi 17 Mei 2009 @ Created By CentralSitus

CERMIN

Aku berkaca di depan cermin agar dapat ku nikmati wajahku yang ayu rupawan barangkali di wajahku ini tersembunyi keagungan agar dapat aku berbangga pada setiap orang dan cermin itu mengatakan dengan sungguh aku seperti yang ku sangkakan barangkali kemuliaan ! Sepuluh tahun telah berlalu cermin itu telah kusam dan retak-retak aku berkaca lagi di depan cermin itu ku hayati dalam-dalam aku terkejut bukan kepalang wajahku terpetak-petak ! Seperti rasa hatiku yang terkotak-kotak aku makin ngeri dan ketakutan di dalam cermin itu bibir tuaku tersenyum dengan senyuman yang tak lagi menawan. Ku sangka diri ini bahagia dengan keagungan dan kemuliaan yang dibangga-banggakan ku kira diri ini penuh keindahan dan keabadian ternyata jasad rapuh ditelan usia. Aku gelap mata cermin itu aku banting hancur berantakan hilang bayang wajahku musnah senyum nestapaku. Cermin saksi kejujuran tunjuki aku gambar sebenarnya mestinya bukan hanya kepadamu aku mengaca tiap orang lain adalah cermin alam semesta adala...

KHALWAT

Ada rinduku datang tiba-tiba oh kekasihku tapi kau tak mencintaiku lagi mungkinkah ada kau dan aku dalam seia sekata ? Ku reguk secawan air kehidupan asap dupa mengepul menyapa langit oh kekasihku mestinya ku sanjung dirimu sepanjang siang sepanjang malam tapi tanpa cintamu apa arti ? Ku reguk lagi seribu air kehidupan tenggorokan haus ini bagai disiram air hujan tapi tanpa kasihmu jiwa ini tetap gersang, bukan ? Oh kekasihku tiada lagi air kehidupan hanya cangkir kosong hampa tersisa terbias di dalamnya wajah duka nestapa. Ini rinduku masih ada tapi tiba-tiba menjadi dendam kebencian cinta itu apa, di mana kasih sayang, yang bercinta dan berkasih sayang kehilangan makna ! Malam telah berlalu azan subuh mengalun menggema Duh Tuhanku ternyata aku terjatuh pada sebuah prasangka di antara bias cakrawala fajar ternyata dalam siksaMu ku temui keagunganMu. Jakarta 29 Oktober 1995 - - - Created By CentralSitus

SIAPA MENGIRA

Siapa mengira nikmat kehidupan berubah menjadi bencana berharap perjalanan tanpa rintangan tidur diselimuti mimpi indah kanan kirh puji dan sanjungan. Ini kehidupan tak selamanya indah, nyata bukan ? Bahkan dengan anak istri tersayang ! Kasihan pemuja cinta amat menderita para pendosa amat hina dihina kekerdilan itu amat durhaka ! Biarkan langkah kaki mencari jalannya seperti burung-burung membelah angkasa indah dan alamiah celakalah burung dalam sangkar terbelenggu dan terjajah. Siapa sangka bayangan mata air itu ternyata hanya fatamorgana jiwa-jiwa gersang makin kehausan burung-burung tak lagi bersuara kembang kamboja luruh di tepi nisan di sana ada kematian menantikan kehidupan mengetuk pintunya. Jangan pernah lagi menyangka lidah ini kan bertutur selamanya karena di sana ada kematian tempat kehidupan bersaudara kembar dengannya kematian itu nyata seperti kehidupan ini nyata. Bekasi 15 Mei 2009 Created By CentralSitus

Drama Politik Yang Mengharukan

                Kali ini apa yang tidak menjadi perhatian dari kasus Antasari hingga kasak kusuk koalisi kali ini siapa yang tidak miris ini partai-partai politik membela negeri atau diri sendiri hanya karena isu SBY melamar Budiono bangunan koalisi kocar kacir cemburu atau iri demi negeri atau diri sendiri melempar statemen jawa luar jawa parpol atau sipil islam atau nasionalis. Aku hanya rakyat hanya memandang dari jauh aku juga nyonteng karena aku bukan golput aku juga punya harapan-harapan karena cita-citaku banyak yang belum kesampaian tapi aku jadi malu partai dukunganku tidak menang tapi partaiku juga ingin menikmati kekuasaan karena itulah politik seni dan budaya menggapai kekuasaan. Tapi aku ngeri banyak tokoh partai main jual beli ada apa dengan partai ini hanya karena tidak mendapat jatah kursi ramai-ramai membuat koalisi ramai-ramai pula membacakan petisi agar aku dengar agar aku kenal agar aku mengerti Sebenarnya ini cerita memilukan ...

Di Persimpangan Jalan

Di persimpangan jalan ini aku berdiri menunggu rantaumu kapan kan kembali negeriku negerimu terbentang jarak jauh sekali tapi hatiku hatimu masih merekat dekat sekali itulah cinta jarak dan waktu memisahkan tapi kasih dan sayang mempersatukan kerinduan dan pengharapan menjalin jiwa resah menjadi kenangan indah. Kapan cinta dan kasih dipertemukan kembali laksana matahari senja dijemput malam sunyi bersanding di pelaminan bersatu di peraduan mencurahkan kasih dan sayang dalam bejana-bejana cinta. Kapankah penantian ini mendapat jawab di persimpangan jalan ini menunggu penuh harap negeriku negerimu mengapa tak dipersatukan saja agar jasad rindu ini tak harus merasa dipisahkan. Di persimpangan jalan ini selalu ku pandangi wajah orang-orang lelah lusuh berlalu lalang di pojok rumah ini juga telah ku tanam kembang mawar dan melati berharap cintaku kan kembali pada saat kembang mawar dan melati telah bersemi berharap kelak kau suntingkan seperti keindahan di malam pengantin. Negeriku negerimu...

HALUSINASI

Kamis wage malam jum'at kliwon ku tabur kembang dan ku bakar kemenyan di sisi makam bundaku yang telah rapuh dimakan rayap asap wangi dupa mengingatkanku pada kematian yang dalam hidupku paling aku takutkan. Kematian ? Begitu mengerikankah kematian ? Yang ditinggal menangis meratap-ratap sambil tak lupa mengingat-ingat seberapa besar kelak warisan yang didapat sang arwah sendiri entah celaka entah selamat tetangga sekampung turut memanjatkan doa padahal ditanggung sendiri seluruh amal perbuatan sewaktu hidup di dunia. Aku terjaga sebuah tangan lembut menjamah pundakku ternyata aku bermimpi yang membuatku tak bisa terlelap lagi. Ah, kematian... benarkah di dunia ini ada kematiam ? Ku layangkan pandangan ke langit, hanya kelam tak ada bintang gemintang ku sapa angin dingin yang menusuk tulang kebekuannya mengantarkan aku pada sebuah pintu tinggi dan kokoh tertutup rapat di bagaian mana aku mengetuknya atau akan ku ucapkan salam saja tapi sunyi tiada jawaban desah nafas kecewaku musna...