Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

Keluarga Presiden

Fadhilah Memberi Minum Anjing Yang Kehausan

Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam pernah bercerita tentang
pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat
tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan
lelaki tersebut betul-betul telah kering. Lelaki ini terus melangkah
meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan
sebuah sumur, lalu terjun dan meminum air di dalamnya. Air yang
mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu.
Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.


Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya
sedang berdiri seekor anjing dengan raut muka yang memelas. Napasnya
kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. "Anjing ini pasti mengalami
dahaga sangat seperti yang telah aku derita," kata si lelaki.
Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat
itu tak mungkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah
mencelakakanya. Seketika ia terjun kembali ke dalam sumur. Sepatunya
ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan
yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.


Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?
Rasulullah SAW berkata, "Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni
dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga."


Para sahabat bertanya, "Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri
binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?"
"Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala," sahut Nabi.


Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih
kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah
binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis
tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?


Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram
dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci,
melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar,
"Irhamuu man fil ardl yarhamkum man fis samâ'
(sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.")

sumber : nu.or.id

Artikel Terkait

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjuangan

Membeli buah2an di pasar, dimakan enak...enak...enak... Tapi menanam sendiri buah itu,menyirami,memupuk,menyiangi,merawat bunga dan buahnya,kemudian memetik dan memakan buahnya...itulah kenikmatan luar biasa yang dapat membawa kita mengerti arti perjuangan dan pengorbanan. Menuju keberhasilan itu sabar,sabar dan sabar... -- CREATED BY : MUHAMMAD SAROJI

السلام عليكم ورحمة‎ ‎الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين اياك نعبد واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراطالذ ين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولضالي ...

Mawar Putih

Jakarta- Jakarta

Jakarta, ketika malam mulai lengang ketika rembulan tak lagi purnama sayup-sayup terdengar bunyi kendaraan melintas mengusik gendang telinga yang merindukan kesunyian ini malam aku amat lelah ingin benar mata terpejam merengkuh bantal guling menjemput impian tapi suara gaduh tadi siang masih saja terngiang di telinga kegaduhan mesin pabrik klakson mobil bersahutan kemacetan panjang jalan raya hingar bingar musik kenangan masa muda bersatu menjadi satu warna ibu kota, hidup dan kehidupan. Jakarta, di saat menghembus angin dingin yang kering pertanda gersang musim telah tiba telah dua purnama kaki ini melangkah menelusuri detik-detik kehidupan yang tak lagi ramah tak mungkin bukan ? aku mundur ke belakang ? Tak mungkin bukan ? aku harus menyerah dan kalah ? Jakarta, inilah saatnya aku kembali mengeja makna cinta dan kasih sayang yang berdiri menantang di antara dendam dan kebencian ini hidup untuk cinta, tapi cinta apa ? orang rela mati karena cinta merana dan terhina karena cinta. Jakar...

Doa Suci

Sebait doa suci, Seharum kembang mawar dan melati, kembang bidadari di pelaminan pengantin. Lisan fasih berpadu janji, hati bersatu mengarung bahtera dalam biduk abadi. "Sepoi Angin Rindu Oleh Jejaka Impian", mengalun merdu menjadi tembang kesetiaan, dua hati telah bertaut dalam syahdu, bilakah bersatu dalam tali cinta yang abadi. Seharum mawar dan melati, doa suci mengalun menembus batas langit, sepasang merpati putih terbang tinggi, menjemput impian yang tinggal sedetik, sedetik lagi. Mekarlah bunga sekuntum, tumbuhlah benih suci, hamparkanlah perjalanan agung, berjanjilah setia hati. -- © Copyright - All Rights Reserved

The Moon Up the Grave

Looks there are full the moon in the heart..  You come with knifes in your hand.  Kill the hope with the grave.  the moon over the grave. the women death  in your arms. ripple foams.  it is you have looking me at the window.  far a way from my palace. I killed the wolf saw the bloods.  drinking my sould fresh of bloods.  The moon in the grave .  One love start to growth. Full the moon over the graves.  and sounds of voices  wolf in night.  I see you was laughing a roast. love blue with blood of blue Princess and Loves killing rites of secreet in the rib from man of misser Trown white heart of his princess in the moon up the grave (buat sahabatku Hidayatut Thoyyibah .bulan diatas kuburan 2014) Sumber Gambar : http://abuthalhah.files.wordpress.com/2009/01/indahnya-bulan.jpg .

Sahabatku

Usia ini telah menorehkan kenangan tersendiri kenangan tentang kehidupan hitam dan putih secerah warna pelangi. Satu persatu para sahabat tercinta pergi meninggalkan dunia meninggalkan anak dan istri tercinta menuju alam baqa. Barangkali para sahabatku tidak sempat menorehkan tinta emas untuk memberi warna sejarah tapi paling tidak mereka telah berkarya untuk hidup mereka sendiri menjadi orang yang baik di mata keluarga dan orang-orang tercinta. Selamat jalan para sahabatku semoga Tuhan di tangan kananmu sorga di tangan kirimu. ( untuk sahabat-sahabat tercinta : almarhum Ahmad Suhani, Rokhana, Rusmarno, Maryam ). [category personal] [tags sahabat, usia, Tuhan, baqa]

Prahara

Kapankah engkau kan kembali, aku dendam, dicengkramku sebilah pedang, ingin benar nafsu puas menikam, pada engkau biar hilang musnah. Aku mencapai bisu, racun dan darah telah tertumpah, padahal itu lukaku, karena tikaman sendiri, disaat engkau beri saksi, bahwa cinta adalah suci, terlalu suci untuk sekedar aku nikmati. @ Jakarta 6 januari 1992.

Kasih Sayang

Dalam keluarga, anak dan istri adalah sumber kasih sayang. Kepada merekalah harapan dan kedamaian menjadi tumpuan. Ketika sang suami merantau ke kota Jakarta, anak dan istri tak lupa mendoakan. Ketika dilanda kesusahan, merekalah hiburan yang menyejukkan. Anak dan istri adalah permata hati, tempat kasih sayang terjalin rapih, anak dan istri menjadi bukti kasih sayang yang suci.