Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

Keluarga Presiden

KEJAWEN ? (2)

Pun saling bernegosiasi memperjuangkan kepentingan masing,hasilnya?
Lahirlah budaya sesaji untuk tolak bala,atau dalam istilah alam ghaib
manusia telah mengirim upeti, sebagai imbalannya makhluk ghaib pun
tidak akan mengganggu ketentraman hidup manusia. Bila proses pemberian
sesaji ini berlangsung terus,terjadilah ketergantungan yang sebenarnya
saling mengancam. Apa jadinya bila manusia yang biasa memberi
sesaji,suatu saat tidak memberi sesaji,dalam sugesti mereka tertanam
pemahaman bahwa membatalkan sesaji berarti membuka pintu kemarahan
mereka. Sehingga kalau terjadi bencana setelah pembatalan sesaji
dianggap ada kaitannya dengan kemarahan penghuni alam ghaib. Di
sinilah kemudian terjadi ketidakselarasan dalam kehidupan makrokosmos
dan mikrokosmos. Benarkah pemahaman seperti ini? Kalau ditinjau dari
akidah syariah islam yang sebenarnya,jelas bahwa pandangan kejawen
sangat keliru,apalagi bila dikaitkan Apabila dikaitkan dengan
kedudukan manusia sebagai kholifah di muka bumi ini. Oleh ALLAH
manusia diberi kedudukan yang mulia dibandingkan dengan makhluk
lainnya untuk menguasai dan mengelola bumi fngan segala isinya. Dengan
akal fikirannya manusia dapat menjawab semua tantangan dan kesulitan
hidup yang dihadapinya,maka lahirlah teknologi,dan dengan bimbingan
wahyu manusia dapat mengenal Tuhannya dan memahami hak hak dan
kewajibanya,bahkan dengan tegas agama islam mengharamkan ketundukan
manusia dengan makhluk lainnya,terlebih dari bangsa jin,baik
ketundukan secara fisik maupun secara spiritual dengan melakukan
ritual ritual seperti persembahan sesaji misalnya,karena ketundukan
kita pada mereka menyeret kita pada kesyirikan,dimana mengakui
kekuatan lain yang bisa mengatur,memberi berkah dan keselamatan bahkan
kecelakaan disamping kekuatan kita. Itulah sekilas fenomena kejawen
dimana manusia menempatkan unsur unsus kekuatan ghaib yang harus
dihormati dan dijaga eksistensinya.

Artikel Terkait

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjuangan

Membeli buah2an di pasar, dimakan enak...enak...enak... Tapi menanam sendiri buah itu,menyirami,memupuk,menyiangi,merawat bunga dan buahnya,kemudian memetik dan memakan buahnya...itulah kenikmatan luar biasa yang dapat membawa kita mengerti arti perjuangan dan pengorbanan. Menuju keberhasilan itu sabar,sabar dan sabar... -- CREATED BY : MUHAMMAD SAROJI

السلام عليكم ورحمة‎ ‎الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين اياك نعبد واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراطالذ ين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولضالي ...

Mawar Putih

Jakarta- Jakarta

Jakarta, ketika malam mulai lengang ketika rembulan tak lagi purnama sayup-sayup terdengar bunyi kendaraan melintas mengusik gendang telinga yang merindukan kesunyian ini malam aku amat lelah ingin benar mata terpejam merengkuh bantal guling menjemput impian tapi suara gaduh tadi siang masih saja terngiang di telinga kegaduhan mesin pabrik klakson mobil bersahutan kemacetan panjang jalan raya hingar bingar musik kenangan masa muda bersatu menjadi satu warna ibu kota, hidup dan kehidupan. Jakarta, di saat menghembus angin dingin yang kering pertanda gersang musim telah tiba telah dua purnama kaki ini melangkah menelusuri detik-detik kehidupan yang tak lagi ramah tak mungkin bukan ? aku mundur ke belakang ? Tak mungkin bukan ? aku harus menyerah dan kalah ? Jakarta, inilah saatnya aku kembali mengeja makna cinta dan kasih sayang yang berdiri menantang di antara dendam dan kebencian ini hidup untuk cinta, tapi cinta apa ? orang rela mati karena cinta merana dan terhina karena cinta. Jakar...

Doa Suci

Sebait doa suci, Seharum kembang mawar dan melati, kembang bidadari di pelaminan pengantin. Lisan fasih berpadu janji, hati bersatu mengarung bahtera dalam biduk abadi. "Sepoi Angin Rindu Oleh Jejaka Impian", mengalun merdu menjadi tembang kesetiaan, dua hati telah bertaut dalam syahdu, bilakah bersatu dalam tali cinta yang abadi. Seharum mawar dan melati, doa suci mengalun menembus batas langit, sepasang merpati putih terbang tinggi, menjemput impian yang tinggal sedetik, sedetik lagi. Mekarlah bunga sekuntum, tumbuhlah benih suci, hamparkanlah perjalanan agung, berjanjilah setia hati. -- © Copyright - All Rights Reserved

The Moon Up the Grave

Looks there are full the moon in the heart..  You come with knifes in your hand.  Kill the hope with the grave.  the moon over the grave. the women death  in your arms. ripple foams.  it is you have looking me at the window.  far a way from my palace. I killed the wolf saw the bloods.  drinking my sould fresh of bloods.  The moon in the grave .  One love start to growth. Full the moon over the graves.  and sounds of voices  wolf in night.  I see you was laughing a roast. love blue with blood of blue Princess and Loves killing rites of secreet in the rib from man of misser Trown white heart of his princess in the moon up the grave (buat sahabatku Hidayatut Thoyyibah .bulan diatas kuburan 2014) Sumber Gambar : http://abuthalhah.files.wordpress.com/2009/01/indahnya-bulan.jpg .

Sahabatku

Usia ini telah menorehkan kenangan tersendiri kenangan tentang kehidupan hitam dan putih secerah warna pelangi. Satu persatu para sahabat tercinta pergi meninggalkan dunia meninggalkan anak dan istri tercinta menuju alam baqa. Barangkali para sahabatku tidak sempat menorehkan tinta emas untuk memberi warna sejarah tapi paling tidak mereka telah berkarya untuk hidup mereka sendiri menjadi orang yang baik di mata keluarga dan orang-orang tercinta. Selamat jalan para sahabatku semoga Tuhan di tangan kananmu sorga di tangan kirimu. ( untuk sahabat-sahabat tercinta : almarhum Ahmad Suhani, Rokhana, Rusmarno, Maryam ). [category personal] [tags sahabat, usia, Tuhan, baqa]

Prahara

Kapankah engkau kan kembali, aku dendam, dicengkramku sebilah pedang, ingin benar nafsu puas menikam, pada engkau biar hilang musnah. Aku mencapai bisu, racun dan darah telah tertumpah, padahal itu lukaku, karena tikaman sendiri, disaat engkau beri saksi, bahwa cinta adalah suci, terlalu suci untuk sekedar aku nikmati. @ Jakarta 6 januari 1992.