Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

Keluarga Presiden

JOMBANG OH JOMBANG

JOMBANG OH JOMBANG.
Jombang bergeliat,tiba tiba semua tersentak. Sosok Ponari itu hanya
anak kecil,tapi namanya telah membesar dan berkelana jauh melebihi
besar dan luasnya Kabupaten Jombang. Jombang oh Jombang,bumi para
kyai,dihuni beribu santri dari penjuru bumi,hanya karena sekepal batu
dewa petir milik ponari,tiba tiba dia menjadi anak ajaib yang sanggup
mengobati berbagai macam penyakit baik penyakit medis maupun yang non
medis.
Kita semua ternganga dan hampir dibuat tak percaya dengan daya sembuh
Ponari bersama batu ajaibnya yang sangat luar biasa. Para ahli
kedokteran dibuat kebingungan,ilmu apa gerangan yang Ponari punya
karena belum tentu dokter yang bergelar Profesor Doktor Insinyur
ditambah SH SE dibelakangnya sanggup memberi jaminan kesembuhan kepada
pasiennya. Ponari bahkan juga tak berjanji dan memberi jaminan bagi
orang yang meminta pertolögan padanya,tapi kita melihat bahkan puluhan
ribu orang orang yang sudag merasakan bahwa keajaiban Pöari dengan
batu dewa petirnya Begitu nyata di depan mata. Siapapun orang yang
sedang diderita penyakit yang tidak kunjung sembuh atau masalah
kehidupan lainnya akan berharap pada ponari melalui air yang telah
dicelupi dengan batu ajaib tersebut. Kita kemudian bertanya dalam hati
menyaksikan fenomena Ponari dengan batu ajaibnya yang ditunggu dengan
antri berjam-jam bahkan ada yang sampai menginap oleh puluhan ribu
masyarakat jombang dan sekitarnya yang berharap kesembuhan padanya.
Miris kita melihat kejadian seperti ini,benarkah Ponari bisa
menyembuhkan penyakit?benarkah begitu banyak rakyat jombang dan
sekitarnya yang tertimpa penyakit dan lebih memilih cara cara
penyembuhan yang instan melalui dukun cilik atau paranormal? Kita juga
miris,fitnah atau anugrahkah sosok Ponari dengan dengan batu ajaibnya?
Kalau sosok Ponari dengan batu ajaibnya adalah fitnah,berarti ALLAH
SWT telah membuka pintu laknatNYA terhadap Jombang,Jawa Timur bahkan
Indönesia seluruhnya melengkapi laknat laknat sebelumnya dimana kita
tahu Selama ini bangsa indönesia banyak dihujani bala

Artikel Terkait

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjuangan

Membeli buah2an di pasar, dimakan enak...enak...enak... Tapi menanam sendiri buah itu,menyirami,memupuk,menyiangi,merawat bunga dan buahnya,kemudian memetik dan memakan buahnya...itulah kenikmatan luar biasa yang dapat membawa kita mengerti arti perjuangan dan pengorbanan. Menuju keberhasilan itu sabar,sabar dan sabar... -- CREATED BY : MUHAMMAD SAROJI

السلام عليكم ورحمة‎ ‎الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين اياك نعبد واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراطالذ ين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولضالي ...

Mawar Putih

Jakarta- Jakarta

Jakarta, ketika malam mulai lengang ketika rembulan tak lagi purnama sayup-sayup terdengar bunyi kendaraan melintas mengusik gendang telinga yang merindukan kesunyian ini malam aku amat lelah ingin benar mata terpejam merengkuh bantal guling menjemput impian tapi suara gaduh tadi siang masih saja terngiang di telinga kegaduhan mesin pabrik klakson mobil bersahutan kemacetan panjang jalan raya hingar bingar musik kenangan masa muda bersatu menjadi satu warna ibu kota, hidup dan kehidupan. Jakarta, di saat menghembus angin dingin yang kering pertanda gersang musim telah tiba telah dua purnama kaki ini melangkah menelusuri detik-detik kehidupan yang tak lagi ramah tak mungkin bukan ? aku mundur ke belakang ? Tak mungkin bukan ? aku harus menyerah dan kalah ? Jakarta, inilah saatnya aku kembali mengeja makna cinta dan kasih sayang yang berdiri menantang di antara dendam dan kebencian ini hidup untuk cinta, tapi cinta apa ? orang rela mati karena cinta merana dan terhina karena cinta. Jakar...

Doa Suci

Sebait doa suci, Seharum kembang mawar dan melati, kembang bidadari di pelaminan pengantin. Lisan fasih berpadu janji, hati bersatu mengarung bahtera dalam biduk abadi. "Sepoi Angin Rindu Oleh Jejaka Impian", mengalun merdu menjadi tembang kesetiaan, dua hati telah bertaut dalam syahdu, bilakah bersatu dalam tali cinta yang abadi. Seharum mawar dan melati, doa suci mengalun menembus batas langit, sepasang merpati putih terbang tinggi, menjemput impian yang tinggal sedetik, sedetik lagi. Mekarlah bunga sekuntum, tumbuhlah benih suci, hamparkanlah perjalanan agung, berjanjilah setia hati. -- © Copyright - All Rights Reserved

The Moon Up the Grave

Looks there are full the moon in the heart..  You come with knifes in your hand.  Kill the hope with the grave.  the moon over the grave. the women death  in your arms. ripple foams.  it is you have looking me at the window.  far a way from my palace. I killed the wolf saw the bloods.  drinking my sould fresh of bloods.  The moon in the grave .  One love start to growth. Full the moon over the graves.  and sounds of voices  wolf in night.  I see you was laughing a roast. love blue with blood of blue Princess and Loves killing rites of secreet in the rib from man of misser Trown white heart of his princess in the moon up the grave (buat sahabatku Hidayatut Thoyyibah .bulan diatas kuburan 2014) Sumber Gambar : http://abuthalhah.files.wordpress.com/2009/01/indahnya-bulan.jpg .

Sahabatku

Usia ini telah menorehkan kenangan tersendiri kenangan tentang kehidupan hitam dan putih secerah warna pelangi. Satu persatu para sahabat tercinta pergi meninggalkan dunia meninggalkan anak dan istri tercinta menuju alam baqa. Barangkali para sahabatku tidak sempat menorehkan tinta emas untuk memberi warna sejarah tapi paling tidak mereka telah berkarya untuk hidup mereka sendiri menjadi orang yang baik di mata keluarga dan orang-orang tercinta. Selamat jalan para sahabatku semoga Tuhan di tangan kananmu sorga di tangan kirimu. ( untuk sahabat-sahabat tercinta : almarhum Ahmad Suhani, Rokhana, Rusmarno, Maryam ). [category personal] [tags sahabat, usia, Tuhan, baqa]

Prahara

Kapankah engkau kan kembali, aku dendam, dicengkramku sebilah pedang, ingin benar nafsu puas menikam, pada engkau biar hilang musnah. Aku mencapai bisu, racun dan darah telah tertumpah, padahal itu lukaku, karena tikaman sendiri, disaat engkau beri saksi, bahwa cinta adalah suci, terlalu suci untuk sekedar aku nikmati. @ Jakarta 6 januari 1992.